Ayah Lupa, Nak!

Bagi para orang tua, sebelum Anda mengkritik anak-anak Anda, ada baiknya Anda baca salah satu jurnal klasik Amerika, ‘Ayah juga Lupa’. Awalnya artikel ini muncul sebagai satu editorial dalam majalah People’s Home Journal.
‘Ayah juga Lupa’, adalah salah satu dari tulisan-tulisan kecil yang – ditulis cepat dengan perasaan tulus – menggugah hati begitu banyak pembaca, sehingga menjadi satu tulisan cetak ulang yang abadi dan disukai. Sejak munculnya pertama kali, ‘Ayah Juga Lupa,” telah diproduksi kembali dalam ratusan majalah, dan dalam koran-koran dunia. Artikel ini sudah diterjemahkan kedalam hampir semua bahasa yang ada. Aneh, satu tulisan ringan bisa secara misterius membius daya tarik manusia di amana-mana untuk membacanya.
Iniah artikel itu.

Ayah Juga Lupa
W. Livingstone Larned

Dengar, nak: Ayah mengatakan ini pada saat kau terbaring tidur, sebelah tangan kecil merayap di bawah pipimu dan rambutmu yang keriting pirang lengket pada dahimu yang lembab. Ayah menyelinap masuk seorang diri ke kamarmu. Baru beberapa menit yang lalu, ketika Ayah sedang membaca koran di ruang perpustakaan, satu sapuan sesal yang amat dalam menerpa. Dengan perasaan bersalah ayah datang masuk untuk menghampiri pembaringanmu.
Ada hal-hal yang Ayah pikirkan, Nak: Ayah selama ini bersikap kasar kepadamu. Ayah membentakmu ketika kau sedang berpakaian hendak pergi ke sekolah karena kau cuma menyeka mukamu sekilas dengan handuk. Lalu ayah lihat kau tidak membersihkan sepatumu. Ayah berteriak marah tatkala kau melempar beberapa barangmu ke lantai.
Saat makan pagi ayah juga menemukan kesalahan. Kau meludahkan makananmu. Kau menelan terburu-buru makananmu. Kau meletakan sikumu di atas meja. Kau mengoleskan mentega terlalu tebal di atas rotimu. Dan begitu kau baru mulai bermain dan Ayah berangkat mengejar kereta api, kau berpaling dan melambaikan tangan sambiul berseru, “Selamat jalan ayah!” dan Ayah mengerutkan dahi, lalu menjawab, “Tegakkan bahumu!”

Kemudian semua itu berulang lagi pada sore hari. Begitu ayah muncul dari jalan, Ayah segera mengamatimu dengan cermat, memandang hingga lutut, memandangmu yang sedang bermian kelereng. Ada lubang-lubang pada kaus kakimu. Ayah menghinamu di depan kawan-kawanmu, lalu menggiringmu untuk pulang ke rumah. Kaus kaki mahal – dan kau yang harus membelinya, kau akan lebih berhati-hati! Bayangkan itu, Nak, itu keluar dari pikiran seorang ayah!
Apakah kau ingat, nantinya, ketika ayah sedang membaca di ruang perpustakaan, bagaimana kau datang dengan perasaan takut, dengan rasa terluka dalam matamu? Ketika ayah terus memandang koran, tidak sabar karena gangguanmu, kau jadi ragu-ragu di depan pintu. “Kau mau apa?” semprot ayah.
Kau tidak berkata sepatah pun, melainkan berlari melintas dan melompat ke arah ayah, kau berlari melintas dan melompat ke arah ayah, kau melemparkan tanganmu melingkari leher ayah dan mencium Ayah, tangan-tanganmu yang mungin semakin erat memeluk dengan hangat, kehangatan yang telah Tuhan tetapkan untuk mekar di hatimu dan yang bahkan pengabaian sekali pun tidak akan mampu melemahkannya. Dan kemudian kau pergi, bergegas naik tangga.
Nah, Nak, sesaat setelah itu koran jatuh dari tangan ayah, dan satu rasa takut yang menyakitkan menerpa ayah. Kebiasaan apa yang sudah Ayah lakukan? Kebiasaan dalam menemukan kesalahan, dalam mencerca – ini adalah hadiah ayah untukmu sebagai seorang anak lekai. Bukan berarti ayah tidak mencintaimu; Ayah lakukan ini karena Ayah berharap terlalu banyak dari masa muda. Ayah sedang mengukurmu dengan kayu pengukur dari tahun-tahun ayah sendiri.
Dan sebenarnya begitu banyak hal yang baik dan benar dalam sifatmu. Hati mungil milikmu sama besarnya dengan fajar yang memayungi bukit-bukit luas. Semua ini kau tunjukan dengan sikap spontanmu saat kau menghambur masuk dan mencium ayah sambil mengucapkan selamat tidur. Tidak ada masalah lagi malam ini, Nak. Ayah sudah datang ke tepi pembaringanmu dalam kegelapan, dan ayah sudah berlutut di sana, dengan rasa malu!
Ini adalah sebuah rasa taubat yang lemah; Ayah tahu kau tidak akan mengerti hal-hal semacam ini kalau ayah sampaikan padamu saat kau terjaga. Tapi esok hari ayah akan menjadi ayah sejati! Ayah akan bersahabat karib denganmu, dan ikut menderita bila kau menderita, dan tertawa bila kau tertawa. Ayah akan menggigit lidah ayah kalau kata-kata tidak sabar keluar dari mulut ayah. Ayah akan terus mengucapkan kata ini seolah-olah sebuah ritual: “Dia Cuma seorang anak kecil – anak lelaki kecil!
Ayah khawatir sudah membayangkanmu sebagai seorang lelaki. Namun, saat ayah memandangmu sekarang, Nak, meringkuk berbaring dan letih dalam tempat tidurmu, Ayah lihat bahwa kau masih seorang bayi. Kemarin kau masih dalam gendngan ibumu, kepalamu berada di bahu ibumu. Ayah sudah minta terlalu banyak, sungguh terlau banyak”
Somoga tulisan di atas menggugah kesadaran para orang tua untuk membuat jembatan pengertian dengan anak-anaknya. Melembutkan sikap dan perasaan terhadap anak akan membantu mereka menjadi anak yang sebenarnya, tertawa polos, bermain, menangis, merengek, memeluk hangat.
READ MORE - Ayah Lupa, Nak!

Bersedekah dengan Senyuman

Jeanne Calmet, yang dinobatkankan oleh Guinnes Book of Record edisi Inggris sebagai orang tertua di dunia, memberikan resep sederhana tentang rahasia umurnya yang panjang. “Saya banyak tersenyum, dan itulah cara saya bertahan hidup,” ungkapnya. Calmet merupakan contoh orang yang berkepribadian kuat. Dia selalu berusaha mengatasi stres dan rasa sedih. Hingga usia 116 tahun, ia masih sanggup mengayuh sepeda, menghisap rokok, dan minum segelas anggur setiap hari.
Ternyata senyum memberikan pengaruh yang positif terhadap kehidupan manusia. Bahkan senyuman bisa menjadi jamu awet muda, seperti penemuan ilmuwan Amerika, bahwa orang yang sering tersenyum mempunyai sedikit kerut di wajah. Soalnya 17 otot yang dipakai kala kita memperlihatkan mimik gembira, membentuk suatu jaringan-jaringan yang mengencangkan kulit. Orang yang suka mengeluh memerlukan 43 otot yang tidak ada hubungannya satu sama lain dan menyebabkan kerut-kerut yang dalam. Ternyata garis-garis di wajah akan makin dalam terbentuk apabila kita marah, stres, atau dirundung kesedihan.

Senyuman memang bukan sesuatu yang berharga, akan tetapi mengandung keuntungan yang banyak. Orang yang menerima senyuman akan merasa mendapat kekayaan, sedang orang yang memberikannya tidak akan merasa rugi. Orang yang sekaya-kayanya akan merasa miskin jika ia tidak bisa tersenyum. Sebaliknya orang yang semiskin-miskinnya akan merasa kaya, kalau ia selalu tersenyum. Senyuman memberikan kebahagiaan dalam rumah tangga, menimbulkan semangat dalam bekerja dan menjadi perekat dalam persahabatan.
Senyuman itu ibarat perhiasan batin yang mempercantik perhiasan lahir yang kurang menarik. Seseorang yang cantik atau ganteng akan terlihat tidak menarik jika wajahnya jarang sekali tersenyum. Tetapi orang yang secara lahiriah tidak cantik atau ganteng akan terlihat menarik jika wajahnya selalu menampakan senyuman. Sayang, banyak yang tidak menyadari perhiasan batin ini. Kebanyakan orang lebih suka mempercantik diri dengan merias wajah, menata rambut, memakai pakaian bagus dan mahal, menggunakan perhiasan mahal dan sebagainya. Padahal secara naluriah, orang lebih suka bergaul dengan orang yang biasa-biasa saja namun ramah senyuman daripada dengan orang yang perlente tapi angkuh.

Apabila Anda bertamu ke rumah seorang kenalan, Anda akan merasakan waktu sejam terasa sepuluh menit jika si tuan rumah menyambut dan berbicara pada Anda dengan senyuman. Tetapi kalau Anda disambut dengan raut cemberut, maka Anda akan merasakan waktu semenit terasa sejam. Contoh lain, seorang ibu yang marah pada anaknya yang balita karena memecahkan piring atau mengotori lantai. Akan tetapi, apabila dari mulut anak itu tersungging sebuah senyuman, maka kemarahan si ibu akan lenyap seketika.
Tetapi, senyuman yang dipaksakan justru akan terlihat semakin tidak menarik. Semua orang dapat menilai mana senyuman yang asli yang keluar dari lubuk hati dan mana senyuman yang palsu yang dibuat-buat. Mengapa senyuman tidak bisa dibuat-buat, karena senyuman adalah cermin dari perasaan gembira. Jika perasaan sedang marah maka senyumannya akan terlihat palsu. Oleh karena, kita wajib selalu gembira di setiap waktu.
Lalu, bagaimana caranya supaya kita senantiasa tetap gembira?
kendalikan perasaan dan juga kehidupan ke arah yang positif. Dengan pikiran, kita dapat mengubah perasaan sedih menjadi perasaan senang, takut menjadi berani, minder menjadi percaya diri, pesimis menjadi optimis, atau bosan menjadi penuh gairah. Seperti kata Marcus Aurelius, seorang filsuf, bahwa "Hidup kita ditentukan oleh pikiran".
Kalau berpikir tentang hal-hal menyenangkan, maka kita akan menjadi senang. jika memikirkan hal-hal menyedihkan, kita akan sedih. Begitu pula bila berpikir soal hal-hal menakutkan, kita akan menjadi takut. Stanley R. berpendapat, "Pada saat keluar rumah di pagi hari, kita sendirilah yang menentukan apakah hari itu akan menjadi baik atau buruk, karena tergantung bagaimana kita menjalankan pikiran kita. Dapat tidaknya kita menikmati hari itu sangat tergantung pada cara kita berpikir."
Kalau merasa kantung kita menipis, lalu mengeluh seakan-akan kita orang paling sial, bisa jadi hari itu menjadi hari paling membosankan. Atau kita masih belum juga mendapatkan pasangan hati, hidup terasa hampa. Tapi bila kita bangun pagi, memandang keluar jendela dan melihat bagaimana burung-burung bersiul menyambut pagi sambil merasakan kesejukan embun, tanpa memikirkan kantung yang semakin menipis atau jodoh yang belum kunjung tiba, mungkin kita akan mendapati hari itu sebagai hari baik. Bagaimana pun cuacara hari itu, bagaimana pun beratnya masalah yang dipikul hari itu, pikiranlah yang menentukan hidup kita. Yang kita pikirkan ketika itu, itulah hidup kita.
"Bila perlu berusahalah tersenyum dalam menghadapi situasi sesulit apa pun. Ada saat-saat di mana kita harus pasrah dan tertawa. Humor dalam hidup ini sangat penting. Jangan lupa bahwa hal-hal sederhana ini dapat membantu Anda mempertahankan perspektif ," kata Dale Carnegie, pendiri Dale Carnegie & Associates.
Bila dalam kesedihan kita mencoba tersenyum, sebenarnya kita tengah mencoba melepaskan diri dari perasaan sedih itu. saat itu kita tengah menetralkan perasaan negatif di dalam diri. Hal ini sangat baik dan bisa membantu agar kita tidak terlalu larut dalam duka.
Demikian pula ketika tengah dihadapkan pada masalah-masalah berat, senyum kita sedikit banyak akan membantu melepaskan ketegangan. Selanjutnya, biarkan diri kita rileks, pandang kenyataan di hadapan kita secara positif, karena dengan begitu kita bisa mengambil hikmah dari apa yang tengah dihadapi. Lalu pikirkan hal-hal yang dapat mengembalikan kegembiraan kita.
Jadi, senyuman mempunyai pengaruh yang besar dalam kehidupan kita. Tidak heran kalau ada hadis yang berbunyi, “Senyuman adalah sedekah”. Dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad mewajibkan setiap umatnya agar bersedekah setiap hari. Jika kita tidak mempunyai apa-apa yang bisa disedekahkan, maka tersenyumlah. Penulis adalah presma HMJ Terjemah Bahasa Inggris UIN SGD Bandung
READ MORE - Bersedekah dengan Senyuman

Biarkan Orang Lain Yang Lebih Banyak Berbicara

Membiarkan orang lain yang lebih banyak berbicara daripada Anda, akan menolong situasi-situasi sulit dalam hubungan rumah tangga atau pekerjaan.
Hubungan Barbara Wilson dengan puterinya, Laurie, semakin hari semakin memburuk. Laurie yang tadinya adalah seorang anak pendiam, puas dengan dirinya, telah tumbuh menjadi seorang yang tidak mau bekerja sama, kadang-kadang sebagai remaja yang suka bertengkar. Nyonya Wilson memberi nasihat, mengancam, menghukumnya, namun semuanya itu tanpa hasil.

“Suatu hari,” ucap nyonya Wilson, “saya sudah menyerah. Laurie sudah tidak mau mematuhi saya, dan dia telah minggat dari rumah untuk berkunjung ke rumah kawan gadisnya, sebelum dia menyelesaikan tugasnya. Ketika dia pulang, saya sudah mau berteriak padanya untuk yang kesepuluh ribu kali. Tapi saya benar-benar sudah tidak mempunyai kekuatan lagi untuk melakukannya.”
Nyonya Wilson hanya memandang Laurie dan berkata dengan sedih, “Mengapa, Laurie, mengapa?”
Laurie memperhatikan kondisi ibunya, dan dengan suara tenang dia bertanya, “Ibu benar-benar ingin tahu?”
Nyonya Wilson mengangguk. Maka Laurie pun mengungkapkan isi hatinya. Mula-mula dengan ragu-ragu, tetapi kemudian semuanya mengalir keluar. Laurie menumpahkan segala isi hatinya, dan Nyonya Wilson cukup mendengarkannya dengan baik. Semenjak itu hubungan mereka dengan cepat kembali membaik.
Kepada temannya, Nyonya Wilson mengungkapkan, “Ternyata salama ini saya tidak mau mendengarkannya. Saya selalu mengatakan kepadanya ini dan itu. Ketika dia ingin menyampaikan pada saya tentang pikiran, perasaan, idenya, saya akan menyela dengan lebih banyak lagi perintah-perintah. Saya lalu sadar bahwa dia membutuhkan saya – bukan sebagai ibu yang bertindak seperti bos, melainkan sebagai tempat yang bisa dia percaya, sebuah tempat penumpahan kebingungannya saat ia tumbuh dewasa. Dan apa yang telah saya lakukan selama ini adalah terus saja berbicara sendiri padahal seharusnya saya mendengarkan, dan saya tidak pernah mendengarkannya.”
“Sejak saat itu, saya biarkan dia yang berbicara sepuas hatinya. Dia menyampaikan apa yang ada dalam pikirannya, dan hubungan kami telah membaik secara luar biasa. Dia kini menjadi orang yang bisa diajak kerjasama lagi.”
Jika dalam sebuah percakapan, Anda merasa tidak setuju dengan lawan bicara Anda, lalu Anda tergoda untuk menyelanya. Jangan lakukan itu! Itu berbahaya. Mereka tidak akan mempedulikan Anda sama dengan Anda tidak mempedulikan mereka. Apa yang Anda rasakan jika saat berbicara dan ide di pikiran masih banyak lalu tiba-tiba ada orang yang menyela ucapan Anda, maka Anda pasti akan jengkel dan akan membalas dengan tidak menyimak ucapan dia. Maka sabarlah untuk membiarkan mereka berbicara sepuas hatinya, berilah mereka respon positif dengan mendengarkannya secara sungguh-sugguh. Cobalah!
READ MORE - Biarkan Orang Lain Yang Lebih Banyak Berbicara

Belajar Melihat Sesuatu dari Sudut Pandang Orang Lain

Dalam bukunya Getting Through to People, Dr. Gerald S. Nirenberg memberi berkata, “Kerjasama dalam percakapan dapat tercapai apabila Anda menunjukan bahwa Anda menganggap ide dan perasaan orang lain sama pentingnya seperti milik Anda.”
Sam Douglas dari Hampstead, New York, biasanya mengatakan kepada istrinya bahwa istrinya menghabiskan terlalu banyak waktu bekerja di halaman mereka, mencabuti rumput, menabur pupuk, memotong rumput dua kali seminggu, padahal halaman tersebut tidak pernah tampak lebih rapi dibandingkan dengan saat mereka baru pindah ke rumah itu, empat tahun yang lalu. Sudah sewajarnya, istrinya jadi sedih dengan pernyataan itu, dan setiap kali dia mengucapkan itu, keindahan malam itu jadi rusak.
Setelah mengiktui sebuah kursus tentang cara bergaul yang baik dan mempengaruhi orang lain, Douglas menyadari betapa bodohnya dia selama bertahun-tahun ini. Tidak pernah terlintas dalam pikirannya kalau istrinya sungguh menikmati tugas itu, dan dia mungkin sungguh-sungguh menghargai sebuah pujian mengenai kerajinannya itu.

Suatu malam setelah makan malam, istrinya mengatakan bahwa dia ingin mencabut rumput dan memintanya menemaninya. Mulanya dia merasa segan, namun kemudian dia memikirkannya lagi dengan lebih baik, lalu pergi keluar mengikuti istrinya dan mulai membantu mencabuti rumput. Jelas sekali istrinya sangat senang, dan bersama-sama mereka melewatkan satu jam bekerja keras sambil bercakap-cakap, sungguh menyenangkan.
Setelah itu dia sering membantunya berkebun dan memuji istrinya betapa indah kebun itu kelihatannya kini, pekerjaan yang fantastis yang istrinya kerjakan di atas tanah yang tadinya seperti beton. Hasilnya: kehidupan yang lebih bahagia untuk mereka berdua, karena dia telah belajar untuk melihat hal-hal itu dari sudut pandang istrinya – walaupun subjeknya hanya ilalang-ilalang.
Melihat segala sesuatu dari kaca mata orang lain, banyak sekali menolong hubungan komunikasi orang-orang. Jika Anda ingin berhasil dalam berhubungan dengan pasangan Anda, murid Anda, atasan/bawahan Anda, cobalah berbicara dengan mereka dari sudut pandang mereka, Anda akan mendapat hasil yang mengagumkan dengan cara ini, cobalah! Dan perhatikan apa yang akan terjadi?
READ MORE - Belajar Melihat Sesuatu dari Sudut Pandang Orang Lain